Sejarah Timbulnya Lagu-lagu Al-Qur'an



Pada uraian sebelumnya telah disinggung bahwa kesenian merupakan bagian dari suatu kebudayaan. Masyarakat tumbuh oleh kebudayaan sehingga tidak mungkin ada kebudayaan tanpa ada masyarakat dan setiap masyarakat melaksanakan kebudayaan sendiri. Dalam sebuah literature ditemui bahwa sejarah awalnya muncul lagu-lagu Al-Qur’an berkaitan dengan nyanyian nenek moyang bangsa Arab. 

Letak geografis jazirah Arab sangat potensial untuk maju. Jazirah Arab menjadi lalu lintas perdagangan dari dua kekuatan yang sama-sama besar yaitu ke Syam pada musim panas dan ke Yaman pada musim dingin. Kondisi ini antara lain diungkapkan oleh Surat Quraisy ayat 1 dan 2. Secara umum kondisi alam padang pasir terutama yang berada di pedalaman mendorong penduduknya hidup selalu berpindah-pindah. Suatu kondisi kehidupan yang sangat melelahkan berjalan di bawah terik matahari, menembus ganasnya gurun pasir dan diselimuti dinginnya angin malam, badan yang menggigil seiring dengan kelap kelipnya bintang di langit. Hiburan bagi mereka di saat beristirahat adalah mendengarkan nyanyian-nyanyian, mungkin dari seorang perempuan yang bertugas menghibur kaum lelaki. Para penyanyi sambil menari-nari menuangkan minuman keras kepada kaum lelaki, itulah kultur jahiliyah dalam melepaskan lelah dari menempuh perjalanan yang sangat jauh. Meskipun mereka bangsa Arab yang hidup di pedalaman dalam keterbelakangan, namun pada sisi budaya seni yang berhubungan dengan tarik suara demikian semaraknya. Tradisi seni suaran itu hanya sebagai pelampiasan dari rasa lelah yang membutuhkan suasana baru sehingga bisa membuat otot-otot saraf yang tegang menjadi lemas kembali. 

Penyanyi selain kadang-kadang menuangkan lirik rasa cinta juga tentang kehormatan suatu kabilah dan semangat perjuangan. Nampaknya kebudayaan menyanyi bagi masyarakat Arab sudah bisa dijadikan media advokasi untuk menyampaikan aspirasi pada pihak lain. 

Islam hadir di tengah-tengah tradisi dan kultur jahiliyah masyarakat Arab dengan misi memperbaiki harkat dan martabat manusia dari moral yang rusak menuju moral kehidupan yang teratur, dari kebudayaan yang gelap menuju kebudayaan dan peradaban yang bercahaya. 

Masyarakat Arab saat itu sudah mengenal peradaban yang diwarisi dari nenek moyangnya dan mau melihat serta menghargai sebuah karya seni yang indah khususnya seni sastra atau syair. Kondisi itu terus berlanjut sampai masa Nabi. Siti Aisyah menceritakan bahwa dia memiliki dua jariyah (pembantu rumah) yang mampu menyanyikan lagu-lagu ba’aats (ghinaa’a bu’aats) yakni syair-syair sastra yang dilantunkannya yang dapat membangkitkan semangat perjuangan untuk mempertahankan diri dalam peperangan. Sikap mau menghargai sebuah karya seperti disebutkan di atas merupakan angin segar bagi misi Islam untuk bisa menyampaikan ajarannya yang termuat dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an yang dibaca oleh Muhammad SAW membuat masyarakat Arab terpesona oleh keindahannya dari berbagai sisi. Mereka memperhatikan susunan bahasanya yang indah mempesona, keserasian kalimat demi kalimat membuat mereka takjub dan tidak mampu untuk berkomentar apapun. Mereka mendengar irama bacaan Al-Qur’an yang dirasakan asing pada telinga namun berdaya tarik yang luar biasa pada sukma. Mereka membandingkan bacaan Al-Qur’an dengan syair dan nyanyian dengan seksama. Mereka mendapatkan satu kesimpulan bahwa Al-Qur’an bukanlah syair ataupun nyanyian tetapi Al-Qur’an adalah wahyu Allah. Keindahan bacaan Al-Qur’an serta kedalaman makna yang terkandung membuat mereka semakin hari bertambah rindu dan semakin mencintai Al-Qur’an. Kemudian mereka mulai meninggalkan ajaran nenek moyang mereka dan menjadikan Islam sebagai pilihan agamanya (baca juga sejarah masuk Islamnya Umar bin Khattab).

0 komentar:

Posting Komentar